PALEMBANG | Anggota Gasum Direktorat Samapta Polda Sumatera Selatan, Bripda Rizki Ardianto, ditemukan tewas sehari setelah dilaporkan hilang saat menjalankan tugas pengawalan kapal tongkang di perairan Sungai Badak, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji, Lampung. Korban sebelumnya dinyatakan hilang pada Kamis, 10 September 2026, saat ditugaskan mengawal kapal LCT milik PT Prime Agri Resources (PAR).
Jasad Bripda Rizki Ardianto ditemukan pada Jumat, 11 September 2026, mengapung di pinggir tanaman nipah, tidak jauh dari lokasi terakhir ia terlihat. Penemuan jenazah terjadi di perairan Sungai Badak, sekitar 1,5 kilometer dari Desa Sungai Badak menuju arah Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Proses pencarian melibatkan tim gabungan yang terdiri dari personel Polres OKI, Ditpolairud Polda Sumsel, Polsek Sungai Menang, Basarnas, BPBD Kabupaten Mesuji, serta dukungan masyarakat setempat. Dalam operasi pencarian, tim menyisir sejumlah titik aliran sungai hingga akhirnya menemukan korban di sela vegetasi tanaman nipah.
Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menyatakan, Bripda Rizki tengah menjalankan tugas resmi berdasarkan surat perintah pengawalan kapal pada perusahaan swasta nasional yang bergerak di sektor agribisnis. Dalam keterangan kepada wartawan, Nandang menjelaskan, barang-barang pribadi milik Bripda Rizki masih lengkap ditemukan bersama korban, antara lain tas ransel hitam, telepon genggam, hingga senjata api V2 Sabhara yang masih melekat pada badan.
Pihak kepolisian langsung mengevakuasi jasad Bripda Rizki ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang guna menjalani pemeriksaan forensik. Hingga kini, penyidik masih melakukan pendalaman terkait penyebab kematian anggota polisi tersebut, termasuk melakukan autopsi untuk memastikan kronologi peristiwa secara detail.
Insiden hilangnya anggota polisi saat menjalankan tugas pengawalan kapal ini menambah daftar risiko keselamatan yang dihadapi aparat saat bertugas di jalur perairan, terutama pada wilayah perbatasan. Pemeriksaan menyeluruh terus dilakukan guna menghimpun keterangan dan bukti lapangan, demi memastikan faktor-faktor penyebab kejadian sekaligus mencegah insiden serupa di masa mendatang.



















